JANGAN JADI STRAWBERRY

Memotret kesibukan santri di pagi hari membuat hati terenyuh. Kasihan, tapi bagaimana lagi ini proses yang harus dilalui. Disaat banyak anak seusianya masih berleha-leha santai dilayani oleh orang tua atau pembantu rumah tangga; mereka harus bersih majid, kamar, asrama, KM, buang sampah, cuci pakaian sendiri, menyiapkan maqra hafalan hari ini, murajaah pelajaran lalu untuk menerima pelajaran baru, dsb dsb.

Itulah pendidikan kehidupan, sederhana tapi mengena, berat memang tapi sangat berarti. Bagaimana jiwa mereka ditempa agar bisa bertanggungjawab atas dirinya sendiri, dan lingkungan sekitar, sebelum kelak mengemban tanggungjawab yang lebih besar, atas agama Islam dan umatnya.

Tidak boleh manja, jangan bisanya hanya mengandalkan orang lain untuk hal-hal remeh yang harusnya dikerjakan sendiri. Tangan jangan sampai alergi menyentuh gagang sapu, alat pel, deterjen cuci baju, memungut sampah, dll. Jangan banyak mengeluh dan mudah menyerah. Terus bersabar, terus semangat, menyemangati diri sendiri dan orang lain.

Kalau guru kami dulu berpesan jangan kamu bermental tempe, kini pesan kami: anakku jangan bermental tempe apalagi strawberry yang lebih lembek mudah layu, busuk dan rusak! Ingat, orang-orang besar itu terlahir dari kerja keras, keuletan, keprihatinan dan keterbatasan, bukan kenyamanan dan kemewahan. Ibarat nahkoda yang tangguh itu lahir dari deburan dan hempasan ombak yang ganas, bukan dari air yang tenang dan diam.

Bersusahpayahlah sekarang untuk mendapatkan keutamaan di masa depan. Selalu ingat pesan Al Imam Asy Syafi’i radhiyALLAHu ‘Anhu

ومن رام العلا من غير كد أضاع العمر في طلب المحال.

“Barangsiapa menghendaki keluhuran tanpa mau bersusah payah, berarti ia menghabiskan usia untuk perkara yang mustahil didapat (hanya angan-angan belaka).”

Batu, 27 November 2024

Azizi Fathoni K

Khadim Ma’had Darul Muttaqin

Pesantren Waqaf Darul Muttaqin Batu

Info/Pendaftaran: wa.me/6281234900611

Infak wakaf Pembangunan: 7474795227 (BSI)